Selasa, 15 Desember 2020

Cinta Pertama yang Hilang

kata orang, papa merupakan cinta pertama bagi anak perempuannya. 

menurutku itu benar, sangat benar. 

bagiku, papa adalah segalanya

papa adalah sosok panutan, pahlawan, presiden,nahkoda, dokter,teknisi, psikolog,dan semua profesi ada di papa. 

masih sangat terekam dengan jelas diingatanku, bagaimana sosok papa yang selalu membimbing setiap langkah dan keputusanku.

dan satu hal yang paling tidak disukai papa adalah air mataku.

benar, setiap kali aku menangis entah itu tentang pendidikan atau masalah apapun kalau aku meneteskan air mata,papa selalu marah dan selalu berkata "dah jangan nangis" "cup udah udah" "gaapa belajar lagi" dengan raut wajah papa yang agak emosi tetapi dengan tatapan yang sendu dan sedih:') masih teringat jelas di pikiran dan benakku,paa

sampai di detik-detik terakhir papa mau pergi, papa masih bilang dengan susah payah "alit jangan nangis"

tetapi maaf pa, sungguh berat sekali menahan air mata dan kesedihan kali ini.

sungguh 19 November 2020 ini merupakan patah hati terbesarku paa

melihat satu-satunya lelaki yang ada di kehidupanku sedang berjuang bertaruh nyawa tetapi aku tidak bisa melakukan apapun, tidak bisa berada disamping papa saat papa di rawat di rumah sakit karena harus kuliah sungguh jika aku telat 1 jam saja itu akan menjadi penyesalan terbesar dalam hidupku. 

masa-masa itu juga aku menjadi takut jika handphoneku berdering, takut saat mengangkat telfon, berusaha mendapat kabar terbaru tentang papa meskipun air mata harus jatuh saat mendengar perkembangannya papa.

pertama kali merasakan, "aku harus percaya pada siapa?" "aku harus kuat didepan semua orang" "aku harus bisa terlihat baik-baik saja di depan teman-teman dan dokter"

padahal? setiap waktu aku menangis, menangis melihat keadaanku yang tidak bisa berbuat apa-apa. beberapa jam sebelum papa pergipun aku sempat pingsan karena tidak kuat untuk mengikhlaskan dan menerima kenyataan ini, berusaha tenang, berusaha "alit kamu kuat" tetapi ternyata tidak semudah itu.

 aku harus benar-benar menerima kenyataan saat kakakku menelfon 

"alit lagi apa?"

"kuliah mbak, ada apa?"

"nanti habis kuliah ke rumah sakit ya, papa kondisinya menurun"

"alit kesana sekarang ya mbak?"

"kamu nggak tutor?"

"nggak mbak."

"jangan nyetir sendiri ya, minta tolong mbak putu buat nganter kesini. hati-hati ya"

tanpa berpikir panjang aku langsung meninggalkan laptop dan kelasku dan menuju ke rumah sakit.

benar, papa sudah berbeda, untuk nafaspun papa sudah sulit.

aku langsung bergegas ke kepala papa dan bilang di telinga papa
"papa, alit datang. anak papa yang paling kecil dan paling papa sayang ini dateng lho paa, papa kuat kan? kemarin papa bilang papa masi kuat kan, mau nemenin alit jadi dokter katanya" kugenggam terus tangan papa yang sudah agak membengkak

masih terasa dengan jelas tekstur kulit kepala papa yang aku elus-elus waktu itu, mama dan kakak-kakakpun sudah saling berbagi tangisnya didepan papa. berusaha agar keajaiban datang, memanggil-manggil papa agar kembali ke kami.

dengan posisi, mama di kepala papa, mbak wulan ditangan kanan papa, mbak intan ditangan kiri papa, mbak ratih di kaki kiri, dan aku di kaki kanan, kami ber5 mengantarkan papa.

sampai papa benar-benar pergi meninggalkan kami dan dunia ini. benar-benar sesuai keinginan papa diantarkan oleh bidadari-bidadarinya sampai akhir nafasnya.

histeris? tentu

aku tidak siap menerima kenyataan, aku belum bisa membanggakan papa, aku belum bisa membalas sedikitpun, aku pukul papa untuk kembali ke sini:') sungguh rasanya waktu pada saat itu berhenti. seolah aku ingin ikut bersama papa, karena aku tidak siap menerima kenyataan bahwa tidak ada yang memanggil-manggilku untuk memijat kepalanya, menemaninya, memandikannya, dan masih banyak hal yang kita berdua lakukan bersama.

papa pergi.....

tidak ada lagi tangan lelaki yang selalu aku genggam setiap kali aku melangkah

tidak ada lagi bahu yang selalu dengan gagah menjadi tempat kepalaku bersandar dan meluapkan tangis dan tawa

tidak ada lagi wejangan bijaksana yang selalu papa utarakan saat ngopi sore bersama

tidak ada lagi yang menjadi penengah ketika anak-anak papa sedang berdiskusi

tidak ada lagi tawa yang dengan suara khasnya papa

tidak ada lagi yang selalu aku cubit-cubit kalo aku gabut

tidak ada lagi perut yang selalu aku jadikan bantal

tidak ada lagi lelaki yang selalu sabar saat aku ndusel-ndusel 

dan masih banyak hal yang sudah tidak bisa kita lewati bersama paa.....

tetapi aku yakin dan sudah membuktikan, jiwa papa masih bersama kami.

masih menuntun setiap langkah dan keputusan kami.

masih selalu mendukung semua kegiatan kami

kehadiran papa masih kami rasakan paa......

jangan lupa cerita ke Tuhan ya paa, kalo di dunia papa masih punya 5 bidadari yang membanggakan.

bantu kami yaa pa, supaya bisa selalu jadi bidadari-bidadari kebanggan papa!

kami rindu, papa💖

0 komentar:

Posting Komentar