Minggu, 27 Desember 2020

2020

teruntuk kamu, 2020.

diawal tahun aku kira kamu akan menjadi tahun yang lebih indah daripada 2019 karena aku pikir cobaan di 2019 sudah cukup memukulku dengan sangat keras. tapi ternyata, aku salah. 

diawal tahun pula sudah banyak harapan yang aku ukir untuk aku lakukan di tahun ini, tapi ternyata? gagal. mungkin bukan bagi diriku saja, orang-orang diluar sana pasti merasakan kegagalan yang sama denganku, bukan?

2020, angka yang cantik kan? kata orang sih begitu sebelum kita benar-benar menjalankannya:)

entah, aku bingung. aku harus berterimakasih atau menyesali dirimu,2020?
terlalu banyak air mata dan kehilangan yang terjadi di tahun ini. 
terlalu banyak kejadian diluar cerita yang aku harapkan
terlalu banyak sakit hati yang aku rasakan
terlalu banyak kebahagiaan yang kau renggut,2020

tetapi disisi lain, darimu aku belajar banyak hal

belajar caranya bersyukur
belajar caranya mengikhlaskan
belajar bagaimana harus berada di tiga posisi sebagai anak, teman, dan mahasiswa
belajar bagaimana kamu harus mengambil keputusan ditengah hiru pikuk kehidupan
belajar bagaimana caranya tersenyum walaupun cobaan berlalu lalang
belajar bagaimana caranya menyembunyikan perasaan dan kejadian yang ada
belajar memaknai waktu
dan masih banyak hal yang aku dapatkan meskipun diiringi dengan tangisan rindu yang keluar disetiap malamnya.

berkatmu juga, sekarang aku sudah tidak merasakan apa-apa lagi. sudah tidak ada rasa untuk melakukan apapun lagi. 
seolah-olah aku hanya seonggok kayu yang diam di permukaan sungai dan hanya mengikut aliran sungai yang entah kemana aku akan dibawa olehnya.
jika dilihat sangat menyedihkan pasti tetapi sungguh didalam lubuk hati yang terdalam ada keinginan untuk keluar dari kenyataan ini. 
tetapi bagaimana caranya? ya, jawabannya semua butuh waktu untuk berproses. 
entah itu 1 bulan,3 bulan,1 tahun hingga puluhan tahunpun menurutku tidak apa. 
karena setiap orang memiliki jalan prosesnya masing-masing.


dan, hai 2021:)
saat ini aku tidak memiliki terlalu banyak keinginan darimu
aku hanya berharap, 
semoga......
sudah tidak ada lagi kehilangan dan airmata yang terjatuh. 
semoga......
aku dan orang-orang yang aku sayangi selalu diberikan kebahagiaan dan kesehatan disetiap langkahnya.

terimakasih ya, buat orang-orang hebat yang selalu ada dan menemaniku di tahun ini terutama bulan-bulan terberat di tahun ini. entah pakai apa aku membalasnya, tetapi aku hanya bisa mendoakan yang terbaik untuk kalian semua:)

Selasa, 15 Desember 2020

Cinta Pertama yang Hilang

kata orang, papa merupakan cinta pertama bagi anak perempuannya. 

menurutku itu benar, sangat benar. 

bagiku, papa adalah segalanya

papa adalah sosok panutan, pahlawan, presiden,nahkoda, dokter,teknisi, psikolog,dan semua profesi ada di papa. 

masih sangat terekam dengan jelas diingatanku, bagaimana sosok papa yang selalu membimbing setiap langkah dan keputusanku.

dan satu hal yang paling tidak disukai papa adalah air mataku.

benar, setiap kali aku menangis entah itu tentang pendidikan atau masalah apapun kalau aku meneteskan air mata,papa selalu marah dan selalu berkata "dah jangan nangis" "cup udah udah" "gaapa belajar lagi" dengan raut wajah papa yang agak emosi tetapi dengan tatapan yang sendu dan sedih:') masih teringat jelas di pikiran dan benakku,paa

sampai di detik-detik terakhir papa mau pergi, papa masih bilang dengan susah payah "alit jangan nangis"

tetapi maaf pa, sungguh berat sekali menahan air mata dan kesedihan kali ini.

sungguh 19 November 2020 ini merupakan patah hati terbesarku paa

melihat satu-satunya lelaki yang ada di kehidupanku sedang berjuang bertaruh nyawa tetapi aku tidak bisa melakukan apapun, tidak bisa berada disamping papa saat papa di rawat di rumah sakit karena harus kuliah sungguh jika aku telat 1 jam saja itu akan menjadi penyesalan terbesar dalam hidupku. 

masa-masa itu juga aku menjadi takut jika handphoneku berdering, takut saat mengangkat telfon, berusaha mendapat kabar terbaru tentang papa meskipun air mata harus jatuh saat mendengar perkembangannya papa.

pertama kali merasakan, "aku harus percaya pada siapa?" "aku harus kuat didepan semua orang" "aku harus bisa terlihat baik-baik saja di depan teman-teman dan dokter"

padahal? setiap waktu aku menangis, menangis melihat keadaanku yang tidak bisa berbuat apa-apa. beberapa jam sebelum papa pergipun aku sempat pingsan karena tidak kuat untuk mengikhlaskan dan menerima kenyataan ini, berusaha tenang, berusaha "alit kamu kuat" tetapi ternyata tidak semudah itu.

 aku harus benar-benar menerima kenyataan saat kakakku menelfon 

"alit lagi apa?"

"kuliah mbak, ada apa?"

"nanti habis kuliah ke rumah sakit ya, papa kondisinya menurun"

"alit kesana sekarang ya mbak?"

"kamu nggak tutor?"

"nggak mbak."

"jangan nyetir sendiri ya, minta tolong mbak putu buat nganter kesini. hati-hati ya"

tanpa berpikir panjang aku langsung meninggalkan laptop dan kelasku dan menuju ke rumah sakit.

benar, papa sudah berbeda, untuk nafaspun papa sudah sulit.

aku langsung bergegas ke kepala papa dan bilang di telinga papa
"papa, alit datang. anak papa yang paling kecil dan paling papa sayang ini dateng lho paa, papa kuat kan? kemarin papa bilang papa masi kuat kan, mau nemenin alit jadi dokter katanya" kugenggam terus tangan papa yang sudah agak membengkak

masih terasa dengan jelas tekstur kulit kepala papa yang aku elus-elus waktu itu, mama dan kakak-kakakpun sudah saling berbagi tangisnya didepan papa. berusaha agar keajaiban datang, memanggil-manggil papa agar kembali ke kami.

dengan posisi, mama di kepala papa, mbak wulan ditangan kanan papa, mbak intan ditangan kiri papa, mbak ratih di kaki kiri, dan aku di kaki kanan, kami ber5 mengantarkan papa.

sampai papa benar-benar pergi meninggalkan kami dan dunia ini. benar-benar sesuai keinginan papa diantarkan oleh bidadari-bidadarinya sampai akhir nafasnya.

histeris? tentu

aku tidak siap menerima kenyataan, aku belum bisa membanggakan papa, aku belum bisa membalas sedikitpun, aku pukul papa untuk kembali ke sini:') sungguh rasanya waktu pada saat itu berhenti. seolah aku ingin ikut bersama papa, karena aku tidak siap menerima kenyataan bahwa tidak ada yang memanggil-manggilku untuk memijat kepalanya, menemaninya, memandikannya, dan masih banyak hal yang kita berdua lakukan bersama.

papa pergi.....

tidak ada lagi tangan lelaki yang selalu aku genggam setiap kali aku melangkah

tidak ada lagi bahu yang selalu dengan gagah menjadi tempat kepalaku bersandar dan meluapkan tangis dan tawa

tidak ada lagi wejangan bijaksana yang selalu papa utarakan saat ngopi sore bersama

tidak ada lagi yang menjadi penengah ketika anak-anak papa sedang berdiskusi

tidak ada lagi tawa yang dengan suara khasnya papa

tidak ada lagi yang selalu aku cubit-cubit kalo aku gabut

tidak ada lagi perut yang selalu aku jadikan bantal

tidak ada lagi lelaki yang selalu sabar saat aku ndusel-ndusel 

dan masih banyak hal yang sudah tidak bisa kita lewati bersama paa.....

tetapi aku yakin dan sudah membuktikan, jiwa papa masih bersama kami.

masih menuntun setiap langkah dan keputusan kami.

masih selalu mendukung semua kegiatan kami

kehadiran papa masih kami rasakan paa......

jangan lupa cerita ke Tuhan ya paa, kalo di dunia papa masih punya 5 bidadari yang membanggakan.

bantu kami yaa pa, supaya bisa selalu jadi bidadari-bidadari kebanggan papa!

kami rindu, papađź’–

Selasa, 08 Desember 2020

Kehilangan Terberat di Hidupku

Surabaya, 19 November 2020 14.40

Tidak pernah terlintas dipikiran dan benakku
hari ini, satu-satunya lelaki yang paling aku sayang di dunia ini dipanggil selamanya oleh Tuhan.
sungguh, sampai detik ini pun ( 9 desember 2020 11.11) aku masih tidak kuasa untuk menerima kenyataan ini
paa, berat rasanya kaki ini untuk melangkah.
papa benar-benar menemaniku selama 21 tahun.
tepat 2 hari sebelum aku ulang tahun, papa pergi selama-lamanya.
papaa, sungguh ini kado terindah buat alit.
papa udah nggak sakit lagi kan? papa udah bahagia kan pa disana?
sampai papa mau pergipun papa selalu bilang "alit jangan nangis"
maafin alit pa, alit tidak kuat menahan air mata ini.
terlalu berat paa, sungguh.

alit nggak perlu cerita tentang kebaikan papa ke orang-orang.
bahkan, kami tau kebaikan papa dari orang-orang yang datang. 
sungguh pa, bukan MPS family aja yang kehilangan hampir semua orang merasakan kehilangan papa.
banyak yang sayang papa.
papa, kami rinduđź’–